KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Pandangan sepasang mata dan mata hati dari individu yang berberda terhadap sebuah objek yang sama, bisa menghasilkan persepsi yang berbeda. Semua tergantung dari sudut pandang masing masing. Begitu juga dengan sebuah sekolah. Jangankan pandangan orang luar, warga sekolah sendiri memiliki persepsi yang berbeda terhadap sekolah mereka. Disinilah kepiaian seorang pemimpin di butuhkan . Sebagai nakhoda, cara berpikir seorang pemimpin sangat menentukan kemana kapal yang bernama sekolah ini akan dibawa berlayar. Terdapat dua pendekatan terhadap cara berpikir sesorang , yaitu:
1. Pendekatan berbasis kekurangan / masalah (Deficit-Based Thinking)
2. Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thinking
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dari sudut pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar. Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Seorang pemimpin yang bijak, sudah seharusnya berpikir berbasis aset yang ada. Langkah pertama yaitu dengan memetakan aset sekolah. Ada 7 aset / modal sekolah :
1. Modal manusia
2. Modal Sosial
bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki masa depan yang sama. - Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profess
3. Modal Fisik
Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:
- Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.
- Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain
4. Modal Lingkungan alam
5. Modal Finansial
6. Modal Politik
7. Modal agama dan budaya
Langkah kedua yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin pembelajaran adalah, membuat program dengan daya dukung aset yang ada. pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Contoh sederhana adalah dalam pembelajaran matematika. Saya ingin merancang pembelajaran berdiferensiasi tentang materi bola untuk siswa kelas IX. Setelah melihat pemetaan aset, maka ide untuk menggunakan globe, bola kaki, bola volly dan bola pimpong timbul dibenak saya. Selain itu, untuk melengkapi pembelajaran berdiferensiasi konten dan proses, saya menggunakan beberapa buah laptop sekolah untuk menayangkan video dengan konten yang berbeda. Pada materi menggambar grafik persamaan kuaadrat, saya menggunakan ruang komputer dan memanfaatkan wifi sekolah untuk mengajarkan siswa menggunakan geogebra. Dalam Pemanfaatan aset daerah, guru bisa memanfaatkan gedung olah raga, museum, bahkan gedung PDAM serta sarana prasarana lainnya untuk meningkatkan proses pembelajaran. Dengan demikian jelaslah bahwa pengelolaan sumberdaya yang tepat oleh pemimpin pembelajaran, akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Sejak mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak ini, terlihat keterkaitan antara seluruh modul yang diberikan, mulai dari modul 1 sampai modul 3. Untuk melihat koneksi semua modul yang ada, dapat dilihat pada bagan berikut :
Setelah mempelajari semua modul 3.2 ini maka terjadi perubahan pada diri saya, yaitu:
- Sebelum mempelajari modul 3.2 ini, saya sering mengeluhkan kekurangan atau kelemahan murid serta sarana dan prasarana di sekolah. Namun setelah mempelajari modul ini, saya bertekad akan membiasakan diri mulai berpikir berbasis aset.
- Setelah memetakan aset, baik aset sekolah maupun aset daerah, saya menyadari ternyata banyak aset yang belum dimanfaatkan secara maksimal.


Keren buk.... 👍👍👍👍👍
BalasHapusterimakasih Pak Rido, Masih kalah keren dari tugas pak Rido
Hapus